وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلا
Dan bacalah al-Qur'an itu dengan tartil. [Al-Muzammil : 4]
Ali bin Abi Thalib menjelaskan makna tartil dalam ayat tersebut diatas adalah: "tajwiidul huruuf wa ma'rifatil wuquuf", yang artinya membaguskan bacaan pada huruf-hurufnya dan mengetahui tempat-tempat berhentinya”. [Syarh Mandhumah Al-Jazariyah, hl. 13]
“Dari Abdullah bin Amr bin Ash berkata, telah bersabda Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam, “Mintalah kalian bacaan Al Qur'an dari Abdullah bin Mas'ud, Salim Maula Abi Hudzaifah, Ubay bin Ka'ab, Mu'adz bin Jabal. (HR. Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan oleh Sa'id bin Mansur ketika Ibnu Mas'ud menuntun seseorang membaca Al Qur'an. Maka orang itu mengucapkan: 'Innamash shadaqatu lil fuqara-i wal masakin'. Dengan meninggalkan bacaan panjangnya, maka Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu katakan, “Bukan begini Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membacakan ayat ini kepadaku". Maka orang itu jawab, “Lalu bagaimana Rasulullah membacakan ayat ini kepadamu wahai Abu Abdirrahman?" Maka beliau ucapkan: '“Innamash shadaqaatu lil fuqaraa-i wal masaakiin.' dengan memanjangkannya. (HR. Sa'id bin Mansur)
Pada zaman Rosululloh Sholalohu 'alaihi wassalam, wahyu dari Alloh Azza wa Jalla, yaitu Al Qur'an diturunkan kepada Muhammad Sholallohu 'alaihi wassalam melalui Jibril 'alaihissalam. Dan beliau sholallohu 'alaihi wassalam menyampaikan secara langsung kepada para sahabatnya. Kemudian para sahabatnya menyampaikannya kepada para tabi'in. Demikian seterusnya, generasi awal umat ini dapat mengerti dan membaca Al Qur'an dengan baik. Namun dengan semakin banyaknya orang non arob yang masuk islam, mulai timbul permasalahan dalam membaca Al Qur'aan dikarenakan sulit bagi non arob untuk mengucapkan huruf-huruf dalam Al Qur'aan. Banyak orang yang tidak bisa membedakan antara د (dal) dengan ذ (dzal), ظ (dzo`) dengan ض (dho’). Demikian pula س (sin) dengan ش (syin) atau denganث (tsa’), dan seterusnya. Oleh karena itu disusunlah suatu disiplin 'ilmu, yaitu 'ilmu tajwid untuk mempermudah membaca al Qur'aan dengan benar sebagaimana Rosululloh Sholallohu 'alaihi wassalam membacanya.
Definisi 'Ilmu Tajwid
Dan bacalah al-Qur'an itu dengan tartil. [Al-Muzammil : 4]
Ali bin Abi Thalib menjelaskan makna tartil dalam ayat tersebut diatas adalah: "tajwiidul huruuf wa ma'rifatil wuquuf", yang artinya membaguskan bacaan pada huruf-hurufnya dan mengetahui tempat-tempat berhentinya”. [Syarh Mandhumah Al-Jazariyah, hl. 13]
“Dari Abdullah bin Amr bin Ash berkata, telah bersabda Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam, “Mintalah kalian bacaan Al Qur'an dari Abdullah bin Mas'ud, Salim Maula Abi Hudzaifah, Ubay bin Ka'ab, Mu'adz bin Jabal. (HR. Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan oleh Sa'id bin Mansur ketika Ibnu Mas'ud menuntun seseorang membaca Al Qur'an. Maka orang itu mengucapkan: 'Innamash shadaqatu lil fuqara-i wal masakin'. Dengan meninggalkan bacaan panjangnya, maka Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu katakan, “Bukan begini Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membacakan ayat ini kepadaku". Maka orang itu jawab, “Lalu bagaimana Rasulullah membacakan ayat ini kepadamu wahai Abu Abdirrahman?" Maka beliau ucapkan: '“Innamash shadaqaatu lil fuqaraa-i wal masaakiin.' dengan memanjangkannya. (HR. Sa'id bin Mansur)
Pada zaman Rosululloh Sholalohu 'alaihi wassalam, wahyu dari Alloh Azza wa Jalla, yaitu Al Qur'an diturunkan kepada Muhammad Sholallohu 'alaihi wassalam melalui Jibril 'alaihissalam. Dan beliau sholallohu 'alaihi wassalam menyampaikan secara langsung kepada para sahabatnya. Kemudian para sahabatnya menyampaikannya kepada para tabi'in. Demikian seterusnya, generasi awal umat ini dapat mengerti dan membaca Al Qur'an dengan baik. Namun dengan semakin banyaknya orang non arob yang masuk islam, mulai timbul permasalahan dalam membaca Al Qur'aan dikarenakan sulit bagi non arob untuk mengucapkan huruf-huruf dalam Al Qur'aan. Banyak orang yang tidak bisa membedakan antara د (dal) dengan ذ (dzal), ظ (dzo`) dengan ض (dho’). Demikian pula س (sin) dengan ش (syin) atau denganث (tsa’), dan seterusnya. Oleh karena itu disusunlah suatu disiplin 'ilmu, yaitu 'ilmu tajwid untuk mempermudah membaca al Qur'aan dengan benar sebagaimana Rosululloh Sholallohu 'alaihi wassalam membacanya.
Definisi 'Ilmu Tajwid
Secara bahasa, tajwid berarti "sesuatu yang indah", lawan dari sesuatu yang jelek. Berasal dari kata جَوَّدَ – يُجَوِّدُ – تَجْوِيْدًا yang berarti bagus dan membaguskan. Secara istilah, tajwid berarti mengeluarkan huruf hijaiyah dari makhroj (tempat keluarnya)-nya serta memberikan hak-nya (yaitu sifat asli yang tidak berubah pada huruf seperti jahr, syiddah, istifal, ithbaq, qolqolah dan sebagainya) maupun mustahak-nya (yaitu sifat yang bisa berubah, sepeti idzhar, idghom, iqlab, ikhfa', tarqiq, tafkhim).
Hukum Mempelajari 'Ilmu Tajwid
Hukum Mempelajari 'Ilmu Tajwid
Hukum mempelajari ilmu tajwid secara teori adalah fardhu kifayah. Namun, membaca Al Qur'an dengan kaidah-kaidah dalam 'ilmu tajwid hukumnya fardhu 'ain. Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan 'ulama perihal fardhu 'ain-nya membaca al Qur'an dengan kaidah tajwid. Seseorang belumlah dikatakan bisa membaca Al Qur'an selama dia belum bisa mempraktekkan tajwid pada bacaan Al Qur'an-nya, walaupun secara teori dia mampu untuk menjelaskan hukum-hukum di dalam 'ilmu tajwid.
Tujuan Mempelajari Ilmu Tajwid
Tujuan mempelajari 'ilmu tajwid adalah menjaga lidah dari kesalahan membaca Al Qur'an.
Ada dua jenis kesalahan dalam membaca Al Qur'an, yaitu:
وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
http://www.alquran-sunnah.com/alquran/ilmu-tajwid.html
http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/membaca-kalamullah-dengan-benar-nan-indah-2-ilmu-tajwid.html
http://almanhaj.or.id/content/3025/slash/0
http://quran.insanislam.com/cari.php
Tujuan Mempelajari Ilmu Tajwid
Tujuan mempelajari 'ilmu tajwid adalah menjaga lidah dari kesalahan membaca Al Qur'an.
Ada dua jenis kesalahan dalam membaca Al Qur'an, yaitu:
- Al Lakhnu Al Jaliy, yaitu kesalahan fatal yang mengubah arti dan menyalahi 'urf qurro (tradisi para qori'). Hukum Al Lakhnu Al Jaliy adalah haram. Yang termasuk kesalahan jenis ini adalah:
- kesalahan makhroj, kesalahan ini biasa terjadi pada huruf dengan bunyi yang hampir serupa seperti 'a(ain) yang dibaca a(hamzah) dlo dibaca dho, dza dibaca da, tsa dibaca sa, ha dibaca kha, thi dibaca ti , dan sebagainya.
- Kesalahan membaca mad, yang seharusnya dibaca pendek tetapi dibaca panjang begitupun sebaliknya. Misalnya, Laa (aa dibaca panjang; artinya Tidak) dibaca La (a dibaca pendek; artinya Sungguh)
- Kesalahan membaca harokat, Contoh: yarfa'ullohu (artinya: Allah mengangkat) di baca yarfa'ulloha (artinya menjadi: dia mengangkat Allah).
- Al Lakhnu Al Khofiy, kesalahan kecil yang menyalahi 'urf qurro namun tidak mengubah arti. Kesalahan semacam ini hukumnya makruh. Yang termasuk kesalahan jenis ini antara lain: kesalahan dalam membaca dengung (idghom, ikhfa', iqlaab, dll), kesalahan (lebih/kurang panjang) dalam membaca mad, kesalahan menampakkan sifat huruf (seperti: hams, qolqolah, keliru membaca tahkhim/tarqiq), dan lain sebagainya.
Fadhilah (Keutamaan) Mempelajari Ilmu Tajwid
Dari ‘Aisyah radhiallahu'anha dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
“Orang yang mahir membaca Al-Qur`an, maka kedudukannya di akhirat bersama para malaikat yang mulia lagi baik. Sementara orang yang membaca Al-Qur`an dengan terbata-bata dan dia sulit dalam membacanya, maka dia mendapatkan dua pahala.”(HR. Muslim no. 798)
Bagi non Arob (a'jam) bahasa Al Qur'aan seringkali sulit untuk dilafadzkan. Butuh banyak belajar dan berlatih dengan lisan untuk bisa memiliki "lisan arobiyyah" dan membaca Al Qur'aan dengan tartil. Sebagian orang, Alloh Azza wa Jalla karuniai dengan kemudahan dalam mempelajarinya, namun tidak dengan sebagian lainnya. Namun, yang demikian itu janganlah menjadi penghalang dan jangan berputus asa karena sesungguhnya Alloh tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.
Bagi non Arob (a'jam) bahasa Al Qur'aan seringkali sulit untuk dilafadzkan. Butuh banyak belajar dan berlatih dengan lisan untuk bisa memiliki "lisan arobiyyah" dan membaca Al Qur'aan dengan tartil. Sebagian orang, Alloh Azza wa Jalla karuniai dengan kemudahan dalam mempelajarinya, namun tidak dengan sebagian lainnya. Namun, yang demikian itu janganlah menjadi penghalang dan jangan berputus asa karena sesungguhnya Alloh tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.
وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
" Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS.Hud:115)
Bersabarlah dan jauhkan sifat tergesa-gesa untuk segera mengkhatamkan membaca dan memahami Al Qur'an, tapi melalaikan kaidah-kaidah dalam membacanya.
Bersabarlah dan jauhkan sifat tergesa-gesa untuk segera mengkhatamkan membaca dan memahami Al Qur'an, tapi melalaikan kaidah-kaidah dalam membacanya.
Sumber:
http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/membaca-kalamullah-dengan-benar-nan-indah-2-ilmu-tajwid.html
http://almanhaj.or.id/content/3025/slash/0
http://quran.insanislam.com/cari.php
Tidak ada komentar:
Posting Komentar